Cerita Aku Punya Pacar Ke Dua

 Aku Punya Pacar ke Dua

Pernahkah kamu di tinggal nikah sama seseorang yang sangat kamu cinta. Jikalau pernah kita senasib.

Pukul 19.30 WIB, aku baru pulang dari acara pernikahan yang seminggu sebelumnya pacar. Wajahku layu, tubuh lesu hilang gairah hidup rasanya tak ingin lagi mengenal cinta.

Aku bantingkan tubuh ini ke pembaringan empuk. Berbantal lengan menatap langit-langit kamar berusaha melupakan dan merelakan ia yang kucinta tidak ditakdirkan menjadi pendamping hidup. Namun, semakin ingin kulupaka semakin kuat bayangan ia menari dalam pikiran. 'Persetan dengan cinta' 


Untaian janji manis yang pernah ia ucapkan menusuk telinga saling bersautan.

"Wahhh!" Aku menjerit menjambak rambut. Rasanya ingin mencongkel otakku biar berhenti memikirkan dia yang tega khianat cinta.

Suasana hati makin menggila kamar yang dingin dengan hawa AC terasa panas bagai neraka. Bergegasku beranjak dari tempat tidur berlari ke luar menyusuri malam mengharap hujan turun agar bisa mendinginkan hatiku yang mengepul dengan asap api kecemburuan.

"Tuhan, aku lelah bermain dengan teka-teki-Mu yang bernama takdir!" jeritku, memecah kegelapan malam.

Aku berlari tanpa tujuan kupasrahkan diri ini ke pada kaki kemana tubuh ini dibawa pergi. Setelah lama kuberjalan tubuh bagai lepas tulang hingga kusandarkan ke pohon tepi jalan. Malam  semakin larut jalanan makin sepi. Akan tetapi, diri ini masih bergelud dengan pikiran. 

Dari sebrang jalan terlihat perempuan tersenyum menyaksikan tingkahku. Ia berjalan menghamiriku.

'Siapa dia?' batinku bertanya. Namun, persetan dengan mahluk yang bernama perempuan.

"Segitunya yang sedang patah hati," gumamnya sembari duduk dan bersandar di pohon dekatku.

"Jangan so tahu!" Seruku, tak acuh dengan ucapannya.

"Kita ini mahluk cipataan Tuhan, otomatis kita jadi peran dalam opera-Nya, yang pasti Tuhan tahu apa yang terbaik untuk umatnya." Ia mengelus rambutku.

"Kamu bisa ngomong begitu, karena tidak merasakan sakitnya ditinggal kawin," ketusku.

"Ha-ha-ha," ia tertawa seakan mengejek penderitaanku. "Jika tidak patah hati, kamu tida akan berjupa dengan jodohmu sekarang," sambungnya.

"Jodoh?"

"Iya, akulah jodohmu."

"Persetan dengan semua ucapanmu!"

"Karena sekarang tidak ada lagi manusia yang mau sama kamu."

"Setan, lu ...." Aku berlari meninggalkannya pulang.

Hatiku semakin hancur dengan ejekan perempuan setan itu. Tak bisa terbendung lagi butiran bening pun jatuh dari netra dan kusapu sebab kabur pandanganku dalam langkah larianku. Setiba di rumah kubuka pintu kamar dengan rasa lelah menaha luka yang ditambah perkatan setan yang terus terngiang di pendengaran. Brak ...!

Pintu kubanting hingga menggema memecah keheningan.

Langkah kupelankan satu, dua langkah kuhentakkan dan kuterdiam memandang tubuh tergantung kaku dengan lidah menjulur.

"Tuhan memang adil. Ia memberikan cinta dengan cara tidak terduga." Aku lepaskan senyum dan berlalu pergi kembali ke perempuan tadi.

________________

"Kamu benar, kamulah jodohku," ucapku memeluk perempuan di bawah pohon.

"Sekarang, kamu tidak akan lagi merasa sakit hati," sahutnya dalam pelukanku

"Terima kasih Tuhan, atas takdir yang Engkau berikan!" Seru kami yang menari di bawah sinar rembulan.

Iklan Atas Artikel

Ikuti

Ikuti

ChatBot

Iklan Bawah Artikel

loading...