Mie Ayam - Catatan

MIE AYAM

September tahun lalu aku mulai menyewa sebuah kios untuk berjualan mie ayam. Tempatnya cukup strategis karena ada di pinggir jalan cagak.

Sewa kios itu enam juta untuk satu tahun. Alhamdulillah, pertama buka cukup rame. Sehari bisa habis empat puluh sampai lima puluh mangkok. Hampir setiap hari masak yang baru, karena hampir tidak pernah tersisa.

Namun, kira-kira awal tahun 2020, usahaku mulai sepi. Tadinya sehari habis empat puluh sampe lima puluh mangkok, turun jadi tiga puluh, dua puluh, bahkan sepuluh mangkok perharinya. Apalagi setelah ada pandemi virus corona, sepertinya tidak pernah jualan sehari habis melampaui dua puluh mangkok.

Entahlah, padahal hampir setiap pelanggan yang sudah mencicipi mie ayamnya mengatakan enak. Bahkan pernah ada yang bilang kalau mie ayam buatanku mie ayam terenak yang pernah dia cicipi.

Dulu memang yang mengatakan seperti itu sering balik lagi dan jadi pelanggan tetap. Namun, tiga bulan terakhir usahaku benar-benar sepi. Kios pun kadang sering tutup karena memang jarang pembelinya. Sepuluh mangkok dalam sehari sudah Alhamdulillah.

Bahkan, kemarin saya tutup satu minggu. Terakhir buka hari Rabu minggu lalu dari pagi sampai malam hanya laku satu mangkok. Bayangkan! Dari pagi sampai malam, lho!

Makanya, saat kemarin ada member KBM yang transfer uang untuk membeli mie ayam dan dibagikan kepada orang terdekat, aku sangat senang. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepada kalian yang luar biasa. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kalian.

Makanya, aku pun rada malas untuk buka kios, di samping karena memang tidak ada yang beli, aku juga ada kesibukan lain. Nah, ternyata setelah mie ayam sepi dan jarang buka, ada orang yang memerhatikan. Entah siapa dan orang mana, yang jelas dia tahu betul dengan kehidupku.

Aku tahu itu karena dia yang kirim inbox di Facebook, dan anehnya setelah kirim inbox, Facebook aku langsung di-blokir.

Inbox-nya kurang lebih seperti ini, nanti screenshot-nya aku kirim di kolom komentar, siapa tahu ada yang kenal akun itu. Namun, aku yakin itu akun kloning atau palsu.

Percakapannya dalam bahasa Sunda, tapi diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

[Gimana mie ayam? Kayaknya bangkrut, ya? Tidak laku terus, kali!]

Inbok itu dikirim kira-kira seminggu yang lalu. Lalu kemarin dia inbok lagi, dan lagi-lagi aku tidak bisa balas inbok-nya karena langsung di-blokir.

[Mie ayam tidak enak bangkrut! Hahaha ....]

Entahlah, maksud yang punya akun itu apa. Namun, yang jelas, ternyata di balik keterpurukan kita, ada orang yang tertawa, bahagia, dan mungkin puas melihat kegagalan kita. Sebenarnya kasihan kepada dia, apa untungnya gitu? Padahal, jika tidak suka ya bilang baik-baik kenapa tidak suka. Apakah selama ini aku pernah merugikan dia? Namun, jujur, selama ini aku rasa belum pernah merugikan orang lain. Jadi, ah, mudah-mudahan semua baik-baik saja.

Bulan depan kontrak kiosnya habis. Sepertinya aku tidak akan meneruskan sewa lagi. Soalnya, percuma kalau tidak ada pemasukan, yang ada rugi terus. Mudah-mudahan ada jalan yang lain untuk aku. 

Untuk yang sudah nge-inbox, maafkan aku jika ada salah. Jika kamu bahagia, puas, dengan keterpurukan aku, mudah-mudahan itu yang terbaik dan tidak berakibat buruk buat kamu, ya. Jika kamu sama-sama seorang pedagang, mudah-mudahan jualannya bisa laris manis, ya. Doa aku untuk kamu, semoga sukses dunia akhirat. 

Terima kasih

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel