Kisah Menantu Pemalas

Kisah Menantu Pemalas

.Kisah Nyata

"Mah ada nasi gak?"

"Kenapa? Mau minta makan lagi?"

"Hehe ... Hari ini Arsya rewel, seharian maunya di gendong jadi aku gak bisa masak. Kasian Kang Herman pulang kerja gak ada makanan"

"Yaudah sana ambil di magic com, lauknya ambil sendiri aja."

"Makasih mah"

Begitulah keseharian menantuku, Silvi. Pagi, Siang, dan malam dia selalu datang ke rumahku meminta makan, tanpa rasa malu apalagi rasa bersalah. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya, toh untuk makan anakku juga. Hanya saja kadang aku suka merasa kesal dengan kelakuannya itu, dari pertama menikah sampai sekarang kelakuannya tidak pernah berubah.

Sewaktu masih pacaran, Silvi ini sangat rajin sekali bantu beberes rumah dan masak makanan kesukaanku dan suamiku, pintar sekali mencuri hati calon mertua. Tapi setelah menikah, berbanding terbalik 180 derajat.

Sering sekali anakku Herman, mengeluh soal kelakuan istrinya ini. Pagi hari tak pernah memasak sarapan untuk suaminya, apalagi siang dan malam ya bisanya minta terus ke rumahku. Apalagi pakaian, kalau belum satu minggu Silvi belum mau mencuci baju. Padahal untuk meringankan pekerjaan Silvi, Herman sengaja membelikannya mesin cuci, tapi ya tetap saja kalau belum satu minggu dia belum mau mencuci baju, itu pun yang mencuci bajunya bi Siti, pembantu yang biasa kerja di rumahnya.

Pernah suatu waktu bi Siti tidak bisa masuk kerja, katanya sakit. Silvi datang ke rumah membawa keranjang yang penuh sekali dengan baju kotor, sambil terengah dia berkata

"Mah aku ikut nyuci baju disini ya, di rumah pompa airnya rusak belum di benerin sama Kang Herman, jadi gak bisa nyuci baju"

"Oh yaudah sok aja"

Ku tinggalkan Silvi yang sedang berdiri di dekat mesin cuci, ku fikir dia akan segera memulai aktifitasnya mencuci baju. Setelah beberapa saat aku kembali ke dapur, dan melihat keranjang yang tadi di bawa Silvi masih ada di tempat beserta tumpukan baju kotornya. Aku hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan menantuku ini.

"Ini sih namya nya nyuruh mertua buat nyuciin baju dia sekeluarga bukan mau numpang nyuci" gerutuku dalam hati.

Dengan kesal akhirnya aku mencuci baju-baju kotor itu, toh di cuci di mesin batinku. Begitu pula dengan setrikaan, sering kali Herman berangkat kerja dengan baju yang masih kusut belum sempat di setrika. Begitulah alasannya, tidak sempat. Padahal sehari-hari pekerjaannya hanya duduk di depan tv sambil perawatan wajah.

Silvi juga menantu yang teramat pelit, selama 2 tahun menikah dengan Herman, belum pernah aku di belikan bakso barang semangkok saja. Bukannya aku berharap di belikan olehnya, hanya saja setidaknya dia ingat atau basa-basi busuk lah terhadap mertua.

Di dalam rumahnya pun sama sekali tidak ada perabot, hanya ada tv, lemari es, sofa dan mesin cuci. Itu pun di belikan Herman sewaktu belum menikah. Memang sebelum menikah Herman sudah memiliki rumah sendiri, tentu saja aku dan suamiku yang membuatkan untuknya.

Aku heran, apa tidak ada niatan Silvi buat belanja atau sekedar menyenangkan diri sendiri? Sering ku lihat, bajunya sudah usang dan tak layak pakai. Tapi dia masih memaksakan untuk memakainya. Padahal kalau hanya untuk membeli beberapa baju, dia lebih dari mampu. Herman selalu memberinya uang belanja 200.000/hari, belum untuk beli beras dan listrik berbeda lagi uangnya. Tapi ya begitu lah dia, selain pemalas juga teramat pelit.

***

"Silvi ... Kamu bawa apa itu di keresek?"

"Ini mah martabak yang di beli mas herman 3 hari lalu mau aku buang, udah basi soalnya."

"Masya Alloh ... kenapa gak kamu makan aja martabaknya?"

"Kenyang mah, mas Herman belinya kebanyakan"

"Lah terus kenapa enggak kamu kasih tetangga aja? Berbagi rejeki itu baik, dapat pahala pula"

"Ah mamah ... Sayang atuh kalau di kasih tetangga mah, mending makan sendiri aja"

"Lha tapi itu kamu buang juga bukannya di abisin sendiri"

Begitulah, Silvi lebih sayang dengan belatung daripada terhadap sesama manusia. Aku hanya bisa mengucap istigfar, kasian Herman hidupnya menderita menikah dengan perempuan seperti itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah menjadi bubur.

"Man, kamu bahagia enggak sih hidup sama Silvi?" Pernah suatu kali aku menanyakan perihal rumah tangganya, aku kasihan melihatnya terus menerus makan di luar, berangkat kerja dengan pakaian yang kusut, hilang sudah Herman yang terkenal tampan dan selalu rapi setiap saat.

"Kok mamah nanya gitu sih? Insya Alloh Herman bahagia kok"

"Ya mamah kasihan aja sama kamu, punya istri tapi seperti tidak punya istri"

"Ya habis mau gimana lagi mah? Emang udah sifatnya seperti itu, ya susah. Aku juga udah capek kasih tahu dia tapi enggak pernah di dengerin."

"Ya kamu harus tegas dong Man, masa pakaian kamu aja sampe kusut gitu gak ada rapinya sama sekali. Belum lagi kalau mamah masuk rumah kamu, duh gusti lantai kotor banget, baju bekas pakai di simpan dimana saja seenaknya. Kamu gak risih emang?"

"Sudahlah mah gak usah terlalu memikirkan Silvi, biarin aja gimana maunya. Lagian kasian, bentar lagi mamah mau nambah cucu tuh, Silvi alhamdulillah lagi hamil."

Hadeeh bakal makin males aja tuh si Silvi kalau lagi hamil mah. Aku menggurutu dalam hati, sudah tahu apa yang akan terjadi kelak jika dia punya bayi. Sekarang saja belum punya anak dia pemalas sekai. Selalu saja Arsya dijadikan alasannya. Iya, Arsya adalah anak Herman dari pernikahannya yang terdahulu. Arsya tidak tinggal dengan Herman, tapi sesekali Arsya selalu datang untuk menginap di rumah Herman atau sekedar ingin berkumpul dengan sepupunya yang lain di rumahku.

Awal pernikahan, Silvi sangat baik dan perhatian pada Arsya. Tapi semakin kesini, semakin terlihat sifat aslinya. Arsya di usir, di biarkan tinggal bersama ibunya. Toh ibunya ini anak orang kaya, keluarga terpandang dan tentu saja memiliki banyak harta jadi sudah pasti sangat mampu membiayai hidup Arsya walau pun tanpa suami. Begitu katanya.

Suamiku sampai di buat kesal dengan kelakuan Silvi, pasalnya Herman ini pekerjaannya seorang pemborong yang tentu saja membuatnya harus selalu berhadpan dengan tamu, bahkan tak jarang banyak tamu yang datang ke rumah. Bukannya Silvi ini membuat rumah terlihat sedap di pandang, malah sebaliknya. Jangankan menjamu tamu yang datang, membuka kan pintu pun terkadang tidak. Terpaksalah Herman menerima tamu di rumahku.

Sebenarnya suamiku bukan tipe orang yang selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya, hanya saja Silvi sudah sangat keterlaluan, makanya suamiku sering sekali menasihatinya. Tetap saja tidak di gubris.

Kumpulan Kisah, Cerita Puisi Terbaru 2020 .

Iklan Atas Artikel

Ikuti

Ikuti

Iklan Bawah Artikel