Karyawan Bukan Umbi-umbian

KARYAWAN BUKAN UMBI-UMBIAN

Mana yang kemarin bilang virus corona gak akan mempan ke warga +62 dengan berbagai alasannya. Karena di Indonesia iklimnya tropis lah, karena warga +62 sering makan pinggir jalan yang sendok dan piringnya cuma dibilas pakai air seember lah, dan masih banyak alasan-alasan lainnya. Sampai salah satu pejabatpun bilang, Indonesia tidak akan kena virus corona karena warganya suka makan nasi kucing. Saya yang sering makan bareng sama kucing aja was-was.

Tapi faktanya di Indonesia juga terserang virus corona, bahkan dengan jumlah kematian paling tinggi di Asia Tenggara. Makanya jangan sombong dulu, kemarin-kemarin si virus corona memang belum nyampe ke Indonesia, masih otewe! Sekarang pada panik, karena saking takutnya kena virus corona, rame-rame pada ngeborong masker, hand sanitizer, sarung tangan, bahkan APD yang biasa digunakan tenaga medis pun ikut diborong. Semua orang mendadak sok higienis, cuma beli mecin ke warung sebelah aja pakai masker dan sarung tangan kulit, biasanya juga kalau lagi makan gorengan, terus gorengannya jatuh ke tanah sebelum 300 detik tetep dicaplok kok.

Woy para centong warteg, kalau semua diborong, efeknya stok di pasaran jadi sulit dan menipis, kalaupun ada pasti harganya mahal banget. Sedikit bijak lah, yang kalian borong itu kebutuhan utama bagi para tenaga kesehatan dan medis. Kalau maskernya kalian timbun dan umpetin, tenaga kesehatan mau pakai apa? Daun pisang? Terus kalau hand sanitizernya kalian borong habis, tenaga medis cuci tangan pakai apa? Masa iya habis menangani pasien corona, cuci tangannya pakai air kobokan kedai pecel lele!

Dengan menyebarnya virus corona di Indonesia, pemerintah banyak mengeluarkan himbauan dan kebijakan supaya bisa menekan laju penyebaran virus corona ini, diantaranya stay at home, social distancing, bahkan sudah ada kota yang memberlakukan lockdown.

Himbauan stay at home yang bahasa Belandanya itu 'meneng wae nang omah!' atau bahasa Jermannya itu 'ngajedog weh di imah sia teh!' dianggap mampu untuk menekan laju penyebaran virus corona. Setiap orang diharapkan untuk tetap berada di rumahnya dan keluar rumah apabila ada keperluan yang mendesak saja. Dan yang paling semangat dalam menerapkan himbauan stay at home adalah orang-orang yang memang sukanya di rumah, yang kerjanya cuma gulang guling di depan kipas angin sambil nonton TV, atau bahasa terkininya disebut dengan kaum rebahan. Walaupun kerjanya cuma tiduran, secara gak langsung kaum rebahan juga ikut andil dalam menyelamatkan dunia dari virus corona. Kapan lagi sih bisa menyelamatkan dunia dengan cara segampang dan sebercanda ini, cukup dengan diem di rumah dan rebahan! Siapa tau kan punya umur panjang, bisa dibanggakan dan diceritakan ke anak cucu.

"Dulu kakek ikut berjuang menyelamatkan dunia dari wabah virus corona, Cu"

"Wah, kakek hebat. Waktu itu perjuangan kakek ngapain aja?"

"Tiduran sambil main game cacing, Cu!"

Ada lagi himbauan social distancing, yaitu setiap orang diharuskan untuk menjaga jarak dengan orang lain dan tidak berkerumun. Semenjak ada himbauan ini, setiap saya pulang kerja, saya gak menemukan lagi ibu-ibu nongkrong sambil ngerumpi di ujung jalan rumah. Bukannya saya takut atau apa, tapi tatapan dan lirikan ibu-ibu yang biasa nongkrong itu tajem-tajem loh, bulu ketek saya jadi merinding. Saya cuma bawa kantong kresek Indomerit, isinya Kinder J*y buat anak, sama pembalut punya isteri, tapi tatapan ibu-ibu itu seperti saya ini membawa sebongkah berlian!
(Astagfirullah, kenapa sekarang malah saya yang ngegosipin ibu-ibu itu)

Balik lagi ke social distancing, intinya kalian gak boleh kumpul-kumpul, berkerumun atau mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang. Misalnya kayak arisan, rapat, bahkan resepsi pernikahan pun saat ini gak boleh dilakukan. Dan kalau ada yang nekat mengadakan resepsi akan dipidanakan, kan gak lucu kalau orang satu kampung masuk penjara. Lagian juga, nanti pas di penjara kalau ngobrol sama napi yang lain jatohnya gak keren, gak nyeremin. Nanya napi yang ini dipenjara gara-gara maling, nanya napi yang itu dipenjara gara-gara membunuh, nah giliran kita ditanya kenapa masuk penjara, masa jawabnya gara-gara kondangan.

Terus, saya sendiri apa sudah melakukan himbauan untuk stay at home dan social distancing? Boro-boro! Saya ini cuma karyawan, bahkan sampai bikin tulisan ini pun saya lagi di tempat kerja, sambil ngopi bareng temen, 1 gelas diuyup rame-rame! (Duh, kalau corona satu corona semua ini yang nguyup kopi)

Saya bukannya gak mentaati himbauan, dan dari pemerintah sendiri memang belum ada yang secara tegas membuat kebijakan kepada perusahaan-perusahaan untuk membatasi aktivitas kerjanya bahkan untuk sementara waktu meliburkan para karyawannya. Para ASN bisa kerja di rumah, pegawai kantoran juga enak, bisa bawa tugas-tugasnya supaya dikerjakan di rumah. Kalau buruh/karyawan gimana kerja di rumahnya, yang kebanyakan aktivitasnya menggunakan mesin, mesinnya mau dibawa ke rumah gitu? Mesin pabrik itu gede-gede, kalaupun ada yang kecil dan bisa dibawa ke rumah, dayanya besar. Di rumah boro-boro buat ngehidupin mesin, buat ngehidupin mejikom sama pompa air berbarengan aja langsung ngejepret.

Saat sekolah, kantor, tempat hiburan dan lainnya udah diliburkan, masih banyak pabrik yang masih tetap beroperasi. Padahal di pabrik itu penyebaran virus corona bisa sangat cepat. Di pabrik itu tempatnya banyak orang, orang berkelompok dan berkumpul, yang kerja gak cuma 1 atau 2 orang, tapi ratusan bahkan ribuan. Kalau yang kerjanya cuma 1 orang itu namanya bukan buruh/karyawan, tapi kuncen kuburan.

Saya pernah baca di timeline, entah itu soal UN atau test CPNS, intinya ada soal cerita yang menyatakan pada saat wabah kopid naintin, semua orang tetap berada di rumahnya, tapi karyawan masih bekerja seperti biasanya, dan  jawaban dari soal pernyataan itu cukup mencengangkan, yaitu karyawan adalah termasuk jenis umbi-umbian. Astagfirullah, berarti apa mungkin emak bapak saya adalah singkong karet dan ubi cilembu?

Karyawan juga manusia, mereka juga sebenernya merasa khawatir terpapar virus corona karena harus tetap bekerja seperti biasa. Jangan mentang-mentang kerjanya di pabrik, terus karyawan dianggap kuat. Di pabrik dikasih makannya nasi kok, bukan dikasih makan oli, baut atau dicharge pakai listrik.

Virus corona ini kan menyerang sistem pernafasan manusia, nah organ/sistem pernafasan para karyawan itu insyaallah asli buatan Allah, bukan buatan pabrik atau buatan China. Kalau terpapar virus corona ya sakit, organ/sistem pernafasannya bisa rusak, paru-paru kalau rusak gak ada spare partnya, gak bisa juga diganti pakai insang!

Karyawan juga manusia pak, bu, om, tante, mas, mbak, dek, manusia itu punya nyawa dan cuma 1. Apa iya pemerintah menganggap para karyawan itu punya nyawa 3 kayak game Mario Bros dan Rambo di nintendo? Atau jangan-jangan pemerintah menganggap kalau karyawan meninggal/kehilangan nyawanya lalu bisa dihidupkan kembali dengan mengumpulkan 7 bola Dragon Ball? Kita itu manusia, bukan Son Goku atau Bezita!

Sekali lagi, karyawan/buruh itu manusia juga ya, bukan termasuk jenis umbi-umbian. Karyawan juga merasa khawatir dengan mewabahnya virus ini, bukan hanya dirinya sendiri, keluarganya jadi sangat rentan terpapar atau tertular. Karyawan juga perlu kebijakan yang melindungi haknya untuk tetap hidup sehat. Saya menulis ini juga bukan sambil cekikikan, saya cuma berusaha menulis dengan cara saya sendiri, dengan cara yang ringan dan bahasa yang mudah dipahami.

Yang mempunyai kecukupan rezeki dan sudah melakukan stay at home, bersyukurlah atas nikmat-Nya. Yang masih harus dan terpaksa tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, semoga selalu diberi kesehatan dan diberi keberkahan di setiap langkahnya oleh Allah. Semoga Allah segera mengangkat wabah virus corona dari muka bumi ini, aamiin

Oya, cuma mengingatkan, yang gak menanggapi tulisan ini, mungkin saja termasuk jenis rempah-rempah.

Iklan Atas Artikel

Ikuti

Ikuti

Iklan Bawah Artikel