Dari Juara Bertahan Hingga Hanya Juara Grup Benarkah Kejayaan Spanyol Berakhir

Dari Juara Bertahan hingga Hanya Juara Grup, Benarkan Kejayaan Spanyol Berakhir?

Kabar terbaru datang dari tim matador Spanyol, sebuah keputusan dari Luis Enrique Martinez untuk kembali menjadi pelatih kepala Timnas matador Spanyol mengejutkan publik Negeri Matador itu. Namun, alih-alih memberi sinyal optimistis pada gelaran Piala Eropa 2020, pelatih yang sekaligus mantan pemain Barcelona dan Real Madrid ini membuat masyarakat Sapnyol merasa was-was.
Bagaimana tidak, pernyataan kontroversi kwluar dari mulut pelatih ini. Dirinya menyatakan jika Timnas Spanyol tidak memilik harapan apapun untuk berjaya pada gelaran pentas Piala Eropa 2020. Dirinya juga mengakui jika pihaknya tidak yakin dengan kondisi kekuatan ti matador sekarang, meskipun dalam babak penyisihan Piala Eropa 2020 timnya cukup berjaya.
Mengejutkan memang, jawaban itu telontar langsung dari mulut pelatih Timnas Spanyol, Luis Enrique. Namun, yang menjadikan masyarakat Spanyol was-was bukan karena pertanyaan apakah Spanyol bisa menjadi juara pada gelaran Piala Eropa 2020 atau tidak, melainkan dirinya menyatakan jika timnya sangat tak yakin untuk meraih trofi juara seperti 2008 dan 2012 yang lalu.
Beberapa pihak baik dari pihak publik maupun media meyakini, jika pelatih Timnas Spanyol, Luis Enrique tentunya memiliki sebuah alasan yang sangat kuat sampai dirinya harus mengabarkan pernyataan yang sangat pesimistis bagi tim asuhannya tersebut jauh-jauh hari. Namun, satu hal yang menurut dirinya pasti, kata Enrique, adalah saat ini untuk tim Spanyol sudah berakhir masa kejayaan pada gelaran Piala Eropa 2020.
Selain itu, dirinya juga mengerucutkan pada lini kekuatan terkini di dalam Timnas Spanyol. Menurutnya, seluruh generasi emas dari Timnas Spanyol sudah pergi dan tidak ada generasi baru yang melanjutkan, dan hal ini tentunya akan membuat tim matador menjadi sangat bimbang untuk menghadapi semua ini. Adapun bukti nyata dari perkataannya itu adalah saat terjadi kegagalan berutun yang terjadi terhadap Timnas Spanyol pada tiga turnamen terakhir setelah generasi emas Timnas Spanyol itu mengangkat trofi juara pada gelaran Euro tahun 2012 yang lalu.
Tidak bisa dipungkiri memang, setelah Timnas Spanyol menjadi juara di Benua Eropa pada 2008 dan 2012 yang lalu, ditambah diselingi sebagai status juara dunia pada edisi tahun 2010 di Afrika Selatan, sinar Spanyol bukan semakin bersinar justru semakin redup. Untuk saat ini mereka hanya terkenal sebagai tim yang selalu menjaga tradisi sebagai raja kualifikasi pada gelaran turnamen apapun yang diikuti.
Sangat disayangkan, tak segarang namanya yang berjuluk tim matador. Tim ini begitu berperang di medan laga yang sesungguhnya, Timnas Spanyol seolah kehilangan daya dobrak pada setiap permainan di berbagai laga yang diikuti. Seperti tak ada tanduk milik banteng sesuai nama yang disematkan pada tim ini, sebuah tanduk yang biasanya mengejar para penonton atau membuat susah barisan Matador kini tidak lagi ganas seperti biasanya.
Sejarah dari berbagai sumber menyebutkan, jika Timnas Spanyol selalu tersingkir begitu mudah pada tiga laga besar setelah Piala Euro 2012, yaitu Piala Dunia 2014, Euro 2016 dan terakhir Piala Dunia tahun 2018. Memiliki status sebagai juara bertahan pada Piala Dunia Brasil 2014 snyatanya tak ada bekas setelah tim matador secara menyakitkan tersingkir pada fase penyisihan grup. Setelah empat tahun berlalu, langkah Timnas Spanyol jugaharus terhenti pada fase perdelapan final. Tentunya hal ini membuat deretan panjang keterpurukan dari Timnas Spanyol berlaga pada turnamen internasional dan juga semakin membuat masyarakat semakin tidak percaya pada permainan tim saat ini dengan adanya pernyataan kontroversi tersebut.

Iklan Atas Artikel

Ikuti

Ikuti

Iklan Bawah Artikel