Curahan Hati Seorang Ibu

      Curahan hati Seorang Ibu

ANAKKU SAYANG, ANAKKU MALANG

Namanya Diandra Nur Ikhsan. Bocah laki-laki berumur lima tahun. Dia anakku, putra pertama & terakhir. Aku tak bisa hamil lagi setelah melahirkannya, didalam rahimku ada sejenis tumor jinak yang memaksa dokter untuk melakukan tindakan operasi angkat rahim. Diandra yang masih berumur enam bulan, harus sering aku tinggalkan untuk sekedar chek up ke dokter. Bahkan pemberian ASI eksklusif pun harus terhenti akibat air susuku berhenti keluar, susunya pun diganti dengan susu formula. Sungguh Diandra yang malang, maafkan ibu nak!

Awalnya, aku tak menemukan kejanggalan pada Diandraku. Dia tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak seusianya. Pada usia enam bulan, dia mulai bisa membalikkan tubuhnya, dia mulai bisa tengkurap dengan kepala tegak. Lalu, pada usia sembilan bulan dia sudah bisa merangkak maju. Perkembangan yang pesat!

Pada usia sebelas bulan, Diandra sudah mampu belajar berdiri sampai akhirnya mampu berjalan sebulan kemudian. Aku sungguh bahagia dengan pencapaian ini.

Hari itu, selasa pagi. Diandra terjatuh dari sepedanya. Dari lututnya keluar darah banyak sekali. Jelas saja aku panik, aku langsung membersihkan lukanya menggunakan air hangat. Setelah bersih, aku teteskan obat merah pada lukanya. Aneh, lututnya hanya tergores sedikit tapi darahnya keluar banyak.

Malamnya, Diandra demam tinggi. Dari hidungnya keluar darah, aku pikir dia sariawan. Aku kompres dengan alkohol, tapi panasnya tak kunjung turun. Saat itu aku bingung, di rumah hanya ada aku dan Diandra. Mas Lukman, suamiku sedang keluar kota dan meminta izin untuk menginap selama sepekan.

"Mas.. Mas.. Diandra sakit.." kataku lewat telepon.

"Sakit apa?" jawab suamiku dari sebrang.

"Demam.. Tapi panasnya gak turun-turun, bahkan saking panasnya dia sariawan Mas," kataku lagi.

"Ya udah, besok bawa dia ke rumahsakit. Besok Mas transfer uangnya," jawab suamiku.

Esok harinya, pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke klinik Dr.Nina. Dia dokter anak yang kebetulan teman dekatku. Aku memeriksakan kesehatan Diandra padanya, tapi aku terkejut ketika Dr.Nina memberiku surat rujukkan ke rumahsakit besar.

"Dok, emang Diandra sakit apa? Kok dirujuk?" tanyaku dengan kaget.

"Emmm.. Aku belum bisa mastiin, Ir. Untuk itu aku berikan surat rujukkan itu. Disana Diandra bisa diperiksa secara mendalam..." jawabnya sambil menatap Diandra.

"Emang serius?" tanyaku lagi.

Aku melihat raut wajah Dr.Nina menjadi murung.

"Sabar, ya.. Mudah-mudahan dugaanku salah.." katanya sambil memegang tanganku.

"Nin.. Diandra kenapa?" tanyaku, kini dadaku terasa sesak.

Aku begitu gelisah. Dr.Nina menemaniku untuk memeriksaan keadaan Diandra ke rumahsakit yang dia sarankan.

"Dr.Nina ini hasil lab nak Diandra.." kata Dr.Indra sambil memberikan selembar kertas ke temanku.

Dr.Nina menerima surat itu, tiba-tiba dia memelukku erat.

"Sabar, ya Ir.. Sabar..." kata Dr. Nina menguatkanku.

"Kenapa Nin? Apa hasilnya?" tanyaku, pikiranku mulai dipenuhi prasangka buruk.

"Diandra.. Diandra leukimia.. Dan dari hasil lab ini, kondisinya sudah serius. Diprediksi, dia hanya bertahan hingga dua sampai tiga bulan kedepan" kata Dr.Nina dengan berat hati.

Seketika tangisku pecah, aku menghampiri Diandra yang duduk disisi ranjang periksa. Diandra, anakku itu sedang mengemut lolipop kesukaannya. Aku memeluk erat Diandra sambil bercucuran air mata. Entah dia kaget atau apa, Diandra hanya ikut menangis.

"Bunda.. Bunda kenapa?" tanya Diandra.

Aku tak mampu menjawab pertanyaannya. Hatiku teramat sakit. Aku tak mungkin memberitahunya, dia masih kecil. Sangat kecil untuk menderita seperti ini.

Seminggu kedepan, Mas Lukman pulang. Awalnya aku sedikit merasa lega, akan ada orang yang menanggung derita ini bersama. Tapi dugaanku salah, Mas Lukman datang bersama seorang perempuan yang umurnya lebih muda dariku. Namanya Putri, kekasih gelap suamiku selama tiga bulan ini. Belum sempat aku menceritakan sakitnya Diandra, Mas Lukman sudah lebih dulu memberikan secarik kertas dari pengadilan agama. Mas Lukman mengguggat cerai diriku.

Dunia benar-benar gelap, takdir pun kuanggap tengah mempermainkanku. Disaat aku dan putraku harus berjuang hidup, suamiku bersenang-senang dengan yang lain. Sungguh, ujianMu ini berat sekali Yaa Robb!

Kehidupanku saat ini benar-benar memprihatinkan,  dirumahku sudah tak ada lagi barang yang tersisa. Semua telah habis dijual untuk menutupi biaya pengobatan Diandra dan juga untuk kebutuhan yang lain. Mas Lukman, seminggu setelah resmi bercerai dia pergi entah kemana. Aku pun tak sudi untuk mengemis padanya, keadaan Diandra pun tak aku beritahukan.

Suatu hari, Diandra mengajakku ke mall. Katanya dia ingin jalan-jalan karena bosan dirumah terus. Aku meminta izin untuk ke toilet karena aku kebelat, betapa terkejutnya aku. Diandra menghilang. Tadi aku suruh dia untuk menunggu di tempat serodotan, saat aku kembali Diandra tak ada. Aku panik, aku mencarinya kesana-kemari sehingga sampai disebuah kerumunan. Saat aku mencoba menyelusup, aku gemetaran. Diandra tergeletak dengan cucuran darah dari hidungnya. Aku menangis sambil memeluk Diandra, aku pikir waktu Diandra hanya sampai disitu.

"Nin.. Tolong anakku.. Anakku pingsan.. Aku lagi di mall," kataku kepada Dr. nina sambil panik.

"Oke, aku kesana," jawabnya.

Setelah satu jam berada diruang ICU, Diandra akhirnya dikabarkan sudah siuman. Aku menghampirinya, dihidungnya terpasang alat oksigen.

"Bunda.. Bunda..." katanya terbata-bata.

"Iya sayang.. Bunda disini.. Kenapa?" tanyaku sambil terisak.

"Bunda, ayah mana?" tanyanya, hatiku tersayat mendengarnya.

"Ayah.. Ayah kerja.." jawabku berbohong.

"Kerja apa? Kok aku lihat dia gendong anak lain?!" katanya.

"Maksudnya?"

"Iya. Ayah pergi ke mall. Dia gendong anak lain, kayaknya mereka bahagia deh. Waktu aku kejar. Dia gak nengok, makanya aku pingsan karena kecapean!" katanya lagi.

Aku tertegun. Lalu aku peluk Diandra erat. Entah bagaimana aku menceritakannya. Yaa Robb, aku tak kuasa!.

Tengah malam, tiba-tiba kesehatan Diandra menurun lagi. Dia tak sadarkan diri, dokter segera turun tangan. Tak sanggup aku melihatnya terbaring lemah dari kaca kecil dibalik pintu. Selang-selang medis terpasang ditubuh kecil itu. Dalam hati aku hanya mampu mengaharap yang terbaik.

Jam setengah lima subuh, seusai adzan subuh berkumandang. Aku mendapati kabar yang memukul bathinku. Diandra, putra kecilku itu telah berpulang ke pangkuan Illahi. Pergi untuk selama-lamanya. Yaa Robb, sambut dia dalam pelukanMu.

Iklan Atas Artikel

Ikuti

Ikuti

Iklan Bawah Artikel